Agar Bisa Lebih Memberi Kemaslahatan

Populasi muslim di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia.Mereka juga dikenal sebagai muslim yang cukup taat. Salah satu ukuran ketaatan mereka adalah banyaknya jumlah masyarakat muslim Indonesia yang menunaikan ibadah haji.

Dilihat dari sisi bisnis, keinginan sebagian besar masyarakat menunaikan ibadah haji merupakan ceruk bisnis yang amat potensial. Sebab, tentu saja, yang berkeinginan naik haji harus mengatur keuangannya sejak awal. Memanfaatkan potensi tersebut, sejumlah bank syariah hadir dengan menawarkan produk tabungan haji,jasa simpanan sekaligus pengelolaan perencanaan naik haji.

Namun, menurut Direktur Bisnis Bank Mega Syariah Ani Murdiati,itu bukan semata kepentingan bisnis, melainkan juga keinginan industri memberikan kemaslahatan lebih bagi masyarakat yang berkeinginan ibadah. Berikut petikan wawancara dengan wanita kelahiran Kudus,Jawa Tengah, 08 Juli 1962 ini dengan Seputar Indonesia. Bisa digambarkan prospek tabungan haji nasional? Berbicara prospek tabungan haji nasional, jelas sangat positif dan sangat cerah ke depannya.

Sebab, dengan jumlah populasi muslim yang cukup besar,pasar produk tabungan haji memiliki pasar yang jelas besar. Apalagi haji juga merupakan salah satu kewajiban agama bagi sebagian masyarakat muslim yang mampu. Bahkan saya kira, setiap orang Islam juga pasti memiliki hasrat dan keinginan untuk melaksanakan haji.Tinggal bagaimana merencanakannya.

Nah, di situlah bank-bank syariah hadir dengan menawarkan produk tabungan haji.Di mana melalui produk tersebut, nasabah yang tertarik bisa merencanakannya sejak awal,dengan ringan dan kontinu. Berapa yang sudah dimanfaatkan? Kalau tidak salah,secara nasional jumlah nasabah yang ditargetkan bank-bank syariah sekitar 61 ribu orang nasabah setiap bulan per Januari 2010.

Ini jumlah calon jamaah haji yang sudah terdaftar dalam Sistem Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat) Departemen Agama. Bila dikalkulasi dengan yang baru,aplikasi produk tabungan haji,barangkali jumlahnya bisa lebih dari itu. Jadi, saya kira jumlah yang sudah disasar industri perbankan syariah sudah lumayan besar. Dengan pasar yang cukup besar tersebut, langkah yang sudah ditempuh Bank Mega Syariah sendiri seperti apa? Memanfaatkan potensi tersebut, kami juga menawarkan produk tabungan haji.

Namanya, Produk Tabungan Haji iB Mega Syariah. Kita sudah meluncurkannya sejak pertengahan tahun 2009 lalu, menurut informasi yang Compliance Services Indonesia dapatkan. Ini berbarengan dengan diresmikannya PT Bank Mega Syariah (Mega Syariah) sebagai bank umum kedelapan penerima setoran biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPS BPIH). Ini didasarkan SK Nomor 59/2009 tanggal 8 April 2009, di mana kami mendapatkan izin menjadi BPS BPIH yang tersambung secara online dengan Siskohat Departemen Agama RI.

Untuk sementara ini, sudah seperti apa hasilnya? Hingga akhir Januari 2010 misalnya, kami sudah bisa mengumpulkan dana tabungan haji hingga Rp32 miliar.Masih kecil memang bila dibandingkan dengan nilai yang sudah dicatatkan bankbank lain, tapi kami kan baru memulai belakangan ini saja. Angka tersebut dari berapa nasabah? Jumlahnya sekitar 3.867 orang nasabah. Mereka yang sudah terdaftar di data Siskohat Departemen Agama.

Oh iya, mereka yang sudah terdaftar ini sudah memenuhi ketentuan jumlah tabungan hajinya yang mencapai Rp20 juta. Sementara, yang belum terdaftar di Siskohat Departemen Agama karena belum memenuhi persyaratan berupa jumlah tabungan minimum Rp20 juta, kira-kira sebanyak 1.314 orang nasabah. Dua minggu yang lalu, kami juga menerbitkan talangan haji plus.

Jumlahnya baru mencapai 86 orang nasabah. Apa bedanya dana tabungan biasa dengan talangan haji plus? Beda. Kalau tabungan haji biasa terdiri atas nasabah calon jamaah haji yang memanfaatkan jalur ongkos naik haji (ONH) reguler. Nah, kalau yang talangan haji plus, adalah mereka yang memanfaatkan jalur ONH Plus. Setelah menabung di produk dana tabungan haji,berapa lama biasanya rentang seorang nasabah bisa naik haji? Biasanya ada daftar tunggu hingga tiga tahun bagi yang sudah tercatat di Siskohat Departemen Agama.

Jadi, bagi yang sudah terdaftar tahun ini di Siskohat Departemen Agama, dia bisa menunaikan ibadah hajinya pada tiga tahun mendatang, kira-kira di tahun 2012 dia sudah bisa berangkat haji. Berdasar siklus tersebut, maka nasabah tabungan haji kami diperkirakan baru berangkat naik haji pada tiga tahun mendatang.

Jadi, bila Anda tanya berapa jumlah nasabah kami yang sudah naik haji? Belum ada. Kami juga baru mulai menawarkan produk ini belum setahun. Bagaimana dengan rencana bisnis produk tabungan haji Bank Mega Syariah tahun ini? Kami berharap bisa merealisasikan target pengumpulan dana tabungan haji sepanjang tahun ini agar mencapai Rp110 miliar. Dengan asumsi bahwa nasabah yang bisa kita tarik sekitar 7.300 orang nasabah.

Kami akan upayakan agar produk yang kami tawarkan menjadi pilihan utama dari kalangan nasabah yang berencana menunaikan ibadah haji. Kami memperkirakan, dari 7.300 orang atau Rp110 miliar dana produk tabungan haji masih akan lebih banyak didominasi oleh nasabah untuk kelompok ONH Reguler.

Untuk ONH Plus,pasti juga bakal bertumbuh tingkat permintaannya, tapi mungkin belum akan sebesar di ONH reguler. Kalau dana talangan haji bagaimana? Kami berharap itu juga bisa dimanfaatkan kalangan nasabah. Produkinidiberikanpadanasabahyang memang membutuhkan dan komit untuk pergi haji sebelum dana tabungan cukup.

Misalnya, jika nasabah pada tahun pertama hanya bisa mengumpulkan misalnya Rp5 juta,sesuai akad dan komitmen kita bisa memberikan dana talangan Rp15 juta, sehingga nasabah bisa mendapatkan nomor kursi dulu dan berangkat haji. Sisanya bisa diangsur kemudian. Sejumlah rencana bisnis sudah disiapkan, apa kira-kira langkah atau strategi yang akan dilakukan Bank Mega Syariah dalam menyasar pasar tabungan haji?

Tentunya bagi kami yang penting adalah menanamkan kepercayaan pada kalangan nasabah untuk mempercayakan perencanaan dan pengelolaan dana hajinya kelak kepada kami.Sebab,bila itu sudah bisa dilakukan, kami yakin masyarakat akan semakin banyak memanfaatkan produk tabungan haji yang kami tawarkan. Namun, untuk itu tentu kami pun menyadari perlu dilakukan sejumlah langkah-langkah teknis.

Sebut saja penambahan jumlah outlet.Ini penting untuk memudahkan masyarakat dalam mengakses produk dana tabungan haji dan mempercayakan pengelolaannya kepada Bank Mega Syariah. Hingga pertengahan tahun ini, kami akan menambah jumlah outlet yang memasarkan produk tabungan haji hingga 400 outlet. Jumlah ini naik, saat ini sekitar 200 unit outlet yang ikut memasarkan produk dana tabungan haji.

Penambahan jumlah outlet ini juga tidak lepas dari lonjakan permintaan produk tabungan haji pada industri perbankan syariah secara keseluruhan. Mungkin niatnya juga bukan semata kepentingan bisnis, ini juga ibadah karena menjembatani keinginan masyarakat yang ingin melakukan salah satu ibadah pokok,haji. Strategi lain? Tentu kami juga tidak akan mengabaikan strategi lain semisal pendekatan berbasis komunitas, di mana kita dekati kelompok-kelompok seperti majelis taklim dan berbagai kelompok lain yang memiliki niat dan komitmen melakukan ibadah haji.

Promosi tentu jadi bagian dalam mendorong pertumbuhan produk ini. Lantas apa alasan khusus yang ditawarkan agar produk tabungan haji Bank Mega Syariah dipercaya masyarakat? Kami berupaya memberikan berbagai kemudahan bagi para nasabah. Mulai dari panduan ibadah haji, latihan manasik haji, mengurus pencatatannya secara langsung ke Siskohat Departemen Agama, perkumpulan untuk mendapatkan ceramah,dan kiat-kiat haji.

Apa target Anda dengan produk dana tabungan haji Bank Mega Syariah ke depan? Kami memiliki mimpi, bisa menjadi lima besar di jajaran bank-bank syariah nasional dalam menawarkan produk dana tabungan haji, sehingga kami juga bisa memberikan kemaslahatan bagi nasabah dalam menunaikan kewajiban ibadahnya.

Tas Tangan, Simbol StatusFashionista

Tas tangan, bagi wanita bukan lagi sekadar wadah penyimpan barang,melainkan simbol status.Dalam sebuah acara sosial, status seseorang bisa ditentukan dari tas tangan yang ditentengnya.

Diana, 35, sudah siap berangkat. Dandanannya tanpa cela, rambut hitam berombak mengkilat menjadi bingkai sempurna untuk wajahnya yang ditata natural. Tubuh rampingnya berbalut gaun cantik dengan motif floral, tren terkini, dan kakinya dibungkus sepatu platform berlabel Jimmy Choo, serasi dengan tas tangan hitam yang disandangnya.

Untuk Diana, membeli tas tangan seharga USD328 atau setara dengan Rp3.053.680 bukanlah masalah. Baginya, status sosial yang menyertai brand tas yang melengkapi penampilannya, sepadan dengan harga yang harus dikeluarkan. Di Jakarta,banyak wanita yang berpikir seperti Diana. Karenanya, tidak heran bila setiap musimnya, tas-tas brandedmulai Guess hingga Gucci tak pernah sepi konsumen.

Bahkan, bag bar yang menjadi pemandangan utama di butik Louis Vuitton merupakan jujugan fashionista saat koleksi baru tiba. ”Koleksi monogram merupakan favorit karena klasik,” cerita Public Relation Louis Vuitton Cecilia King.”Tapi koleksi yang lebih kontemporer juga tak jarang menjadi pilihan,”sambungnya. ”Saya bukan fashionista,” ujar Diana, yang bekerja di salah satu perusahaan swasta.

”Tapi saya memang menyukai tas.Dan bagi saya, tas bermerek sepadan dengan kualitas dan image yang ditampilkannya,” sambungnya. Berbicara mengenai image, Diana mengungkapkan bahwa dirinya memang kolektor Jimmy Choo, namun di lemarinya, wanita berputri satu ini mengakui memiliki beberapa tas yang dianggapnya ”sakral”.

”Saya punya clutch vintage dari Valentino juga Kelly Bag dari Hermes.Dua tas itu hanya saya pakai untuk acara istimewa. Untuk sehari-hari, biasanya saya pakai Jimmy Choo, Kate Spade, atau Anya Hindmarch,” ujar wanita yang mengaku memuja Jimmy Choo untuk urusan sepatu ini. Tas tangan yang termasuk dalam lini fashion accessories, statusnya kini lebih menonjol dibandingkan busana.

Dalam sebuah acara sosial, tas tangan serta sepatulah yang pertama kali ”dilirik”sesama fashionista. ”Tas adalah pernyataan fashion, itulah tren yang sekarang terjadi di dunia fashion.Walaupun secara alami perempuan memang membutuhkan tas tangan dengan atau tanpa tren yang berlaku,” sebut Pauline Westin Thomas, pengasuh situs mode fashion-era.com.

Seperti juga sepatu, tas tangan menjadi fashion statement yang tidak bisa dikesamping kan. Alasan itu yang menjadikan Marc Jacobs begitu serius menggarap lini aksesori untuk tiga label yang ditanganinya, Louis Vuitton, Marc Jacobs, dan Marc by Marc Jacobs. Bukan hanya Jacobs, Frida Giannini dari Gucci juga tidak ketinggalan ”memoles” koleksi aksesorinya, termasuk tas tangan dan sepatu yang selalu terlihat menonjol di atas runway.

”Pasar menginginkan tas dan sepatu yang memberi pernyataan dan para desainer memenuhi kebutuhan itu,” sebut Thomas. Dia juga menyatakan, di era ini tas tangan adalah roda pemutar pundi-pundi rumah mode serta label fashion,selain parfum.

Brand-brand papan atas dunia seperti Hermes, Christian Dior, Prada, Chanel, Fendi, Gucci, Louis Vuitton, berlombalomba menghadirkan ”the it bag”, bersaing dengan brand yang memang berjalan di jalur aksesori dan leather product layaknya Bottega Veneta, Loewe, Kate Spade, Jimmy Choo, atau Anya Hindmarch, menurut pengamatan Compliance Services Indonesia.

Hermes punya Kelly dan Birkin, dua tas tangan ikonik dengan daftar pemesanan panjang. Marc Jacobs selalu sukses dengan koleksi tas tangan bergaya muda yang laris manis setiap musim, sementara Bottega Veneta tidak pernah gagal menjual produk kulit berdetail anyam yang menjadi ciri khasnya.

Anya Hindmarch pernah memimpin pasar dengan tas sederhana bertuliskan ”I’m Not A Plastic Bag”, sementara Kate Spade menarik konsumen melalui desainnya yang catchy dengan warna-warna cerah. Tapi tentu saja, berbicara tas branded berarti membicarakan uang dalam jumlah banyak. Jika Jimmy Choo menjual koleksinya dengan rata-rata USD300, maka Hermes bisa menjual Birkin dengan harga USD6.000 untuk ukuran yang paling kecil dan bisa mencapai harga USD30.000-an, tergantung pada ukuran dan materialnya.

Banjir KW1

Jika harga menjadi masalah untuk kantong Anda,kini tersedia banyak ”replika”tas branded dengan harga miring yang kerap disebut KW1 (kualitas nomor satu) oleh para penjual di ITC maupun Mangga Dua. ”Kami hanya menjual yang KW1, makanya harganya lumayan,” ujar Melina, pemilik butik tas di Thamrin City,Tanah Abang, Jakarta Pusat.

Menurut Melina, harga tas branded dengan kualitas yang mendekati asli bisa mendekati Rp1 juta–2 juta. ”Tergantung bahan dan modelnya. Kalau untuk model klasik harganya bisa sampai 2 jutaan malah lebih, soalnya bahannya mahal,” sebut wanita yang mengambil koleksinya dari Singapura juga Thailand ini. ”Kalau ambil barang lokal, kualitasnya jelek,” paparnya.

Namun, jika yang Anda inginkan hanya menenteng tas ”bermerek”, tanpa peduli kualitasnya, harga tidak akan menjadi masalah. Tastas ”aspal”dengan monogram Louis Vuitton atau Gucci banyak beredar di pasaran dengan harga Rp100.000–Rp200.000 saja, malah jika beruntung, bisa kurang dari itu. Di luar negeri, plagiarisme merupakan tindakan yang sangat ditentang pelaku mode.

Asosiasi fashionpun mengajukan permintaan pada pemerintah untuk adanya Undang-Undang Perlindungan Hak Cipta. Namun di Indonesia, hal itu tampaknya tidak menjadi masalah besar, malah ”diterima” dengan wajar oleh para konsumen. ”Kalau enggak beli yang KW, mana mungkin bisa punya tas branded,” cetus Andina, 24, yang menenteng tas tangan bermotif floral besutan Anna Sui.

Di satu sisi, menenteng Amazona klasik dari Loewe atau mini monogram Louis Vuitton memang memberi Anda status sosial tersendiri sebagai fashionista,namun jika ternyata ”aspal”, status itu bisa turun dalam sekejap. Untuk itu, ada satu peraturan yang bisa Anda ikuti, pilihlah tas tangan yang sesuai budget dan selera. Bila Louis Vuitton tidak sesuai kantong Anda, pilihlah tas tangan dari desainer lokal yang lebih ”ramah” untuk dompet tanpa harus mendukung plagiarisme.

Barongsai dan Marawis Berbaur saat Cap Go Meh

Atraksi liong, Atraksi liong (ular naga) memeriahkan pawai perayaan Cap Go Meh di kawasan Kota, Jakarta Barat, kemarin. Perayaan Cap Go Meh di Jatinegara, Jakarta Timur, dan di Kota Tua, Jakarta Barat, kemarin berlangsung meriah.Perayaan yang dilakukan dalam rangka memeriahkan tahun baru Imlek tersebut diikuti sekitar 700 peserta dari berbagai daerah. ”Ada tiga naga dan puluhan barongsai yang datang dari beberapa perguruan,” kata humas penyelenggara Sartono kemarin.

Barongsai didatangkan dari Sukabumi, Jawa Barat, dan Sumatera Barat untuk memeriahkan hari ke-15 setelah tahun baru Imlek atau Cap Go Meh. Perayaan Cap Go Meh memiliki makna mendalam bagi warga keturunan Tionghoa. Masyarakat Tionghoa meyakini bahwa hari ke- 15 setelah tahun baru Imlek merupakan hari terakhir turunnya hujan. Pada hari itu disarankan untuk bercocok tanam. ”Ini memang sudah menjadi kewajiban (merayakan Cap Go Meh),” kata Sartono.

Pada karnaval kemarin berbagai kesenian di Tanah Air juga diikutsertakan. Di antaranya reog Ponorogo, angklung dari Jawa Barat, serta kesenian Betawi seperti marawis, ondel-ondel, dan tanjidor. Meski hujan mengguyur, masyarakat antusiasi menyaksikan acara yang telah diselenggarakan sejak tahun 2000 itu. ”Hujan menandakan keberkahan. Jadi walau hujan, ini bukan halangan,” ujar Sartono.

Camat Jatinegara Andriansyah mengatakan, karnaval perayaan Cap Go Meh diselenggarakan setiap tahun. Bahkan, telah menjadi agenda wisata di Jakarta Timur. ”Ini akan berlanjut setiap tahunnya,” ujarnya kemarin. Compliance Services Indonesia berharap, dengan acara tersebut masyarakat juga bisa mengenal budaya Tionghoa.

Sementara di Jakarta Barat perayaan Cap Go Meh dilangsungkan di beberapa lokasi seperti kawasan Roxy Mas dan Kota Tua. Salah satu pusat keramaian masyarakat yang ingin menyaksikan parade Cap Go Meh adalah kawasan Kota Tua di sekitar Museum Fatahillah. Arak-arakan dimulai dari Kelenteng Toa Se Bio di Petak Sembilan.

Ribuan orang memadati jalan-jalan menuju Kota Tua untuk menyaksikan para peserta karnaval mengarak replika-replika Dewa. Liukan liong (naga) yang digerakkan manusia dan atraksi lincah barongsai menambah kesemarakan karnaval. Acara tersebut juga menjadi daya tarik wisatawan mancanegara yang mengunjungi kawasan Kota Tua.“Perayaan seperti ini sangat menarik.

Saya baru tahu kalau di Jakarta juga ada pesta orangorang China seperti ini,” ujar Will, warga Kanada yang sedang berkunjung ke Indonesia untuk urusan bisnis. Arak-arakan yang berlangsung pukul 13.00–15.00 WIB ini semakin meriah dengan atraksi Tatung dari Kalimantan. Pemain atraksi ini menusukkan besi-besi runcing ke wajah mereka. Kehadiran kesenian khas Betawi, ondel-ondel, juga menambah nuansa membaurnya beragam budaya dalam karnaval Cap Go Meh.

Kembalinya N-2130

N-2130 adalah tipe pesawat jet yang hendak dikembangkan PT Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada masa jaya perusahaan tersebut di pertengahan 1990-an. Pengembangan pesawat jet komuter dengan jumlah penumpang antara 80–130 orang itu mungkin terinspirasi pesawat yang dikembangkan perusahaan pesawat terbang Brasil,Embraer. Bedanya, Embraer sekarang ini menghasilkan pesawat Embraer Regional Jet (ERJ) yang banyak digunakan perusahaan penerbangan Amerika Serikat (AS), terutama untuk shuttle flight pada jalur-jalur padat Boston, New York, Washington DC, dan Miami.

Adapun N-2130 ternyata hanya menjadi mimpi karena terkubur krisis moneter 1998. Sebagai rentetan krisis tersebut, pemerintah harus menghentikan bantuan kepada IPTN sebagai bagian kesepakatan dengan Dana Moneter Internasional (IMF). Hari ini, lebih dari 10 tahun sejak krisis moneter, kita berada pada posisi yang jauh lebih baik dan siap untuk menghidupkan kembali proyek tersebut.

Ada beberapa alasan kuat untuk itu. Pertama, Indonesia sudah berkembang menjadi kekuatan ekonomi yang patut diperhitungkan. Dalam krisis global baru-baru ini, Indonesia berhasil untuk tetap menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang moderat bersama China dan India. Perkembangan tersebut membuat Indonesia masuk dalam radar perekonomian global.

Ini berarti apa yang diproduksi Indonesia mulai diperhitungkan perusahaan penerbangan di luar negeri. Kedua, perkembangan tersebut juga memperkuat daya beli rakyat dan dunia usaha Indonesia. Jika 12 tahun lalu hanya Garuda dan Merpati yang menjadi perusahaan penerbangan nasional, sekarang banyak perusahaan penerbangan yang mampu membeli pesawat dalam jumlah besar.

Perkembangan traffic dan jumlah penumpang pesawat terbang melonjak sehingga sangat layak jika industri pembuat pesawat terbang akan kecipratan berkah di tahun-tahun mendatang, menurut perkiraan Compliance Services Indonesia. Ketiga, dalam keadaan terjepit pun PT IPTN, yang kini bermetamorfosis menjadi PT Dirgantara Indonesia (PT DI), mampu memasarkan produk ke pelanggan di luar negeri. Korea Selatan sudah membeli beberapa pesawat CN 235, termasuk empat di antaranya yang merupakan pesanan Departemen Pertahanan Korea Selatan untuk patroli maritim.

Demikian juga dengan Malaysia, Thailand,Pakistan,dan Turki. Korea Selatan, Malaysia, dan Pakistan bahkan telah membeli pesawat jenis CN 235 untuk digunakan sebagai pesawat kepresidenan. Keempat, PT DI pada 2009 mulai berhasil mencetak laba. Perolehan pendapatan tersebut diperkirakan semakin besar pada 2010 dengan adanya pesanan 10 helikopter untuk Angkatan Udara dan Basarnas serta pesanan tiga pesawat CN 235–200 MPA untuk menggantikan pesawat Nomad Angkatan Laut Indonesia.

Ini membuktikan restrukturisasi perusahaan tersebut mulai berhasil dalam meningkatkan efisiensi. Kelima, Indonesia sudah lulus dari program IMF. Ini berarti Indonesia memiliki kebebasan penuh untuk mengembangkan kembali cita-cita. Saya yang pernah bekerja di IMF selama lima tahun sangat memahami bahwa tidak ada dari lembaga internasional tersebut yang dapat mencegah kita melakukan hal tersebut.

Keenam, kemampuan keuangan pemerintah.Keuangan pemerintah sekarang sangat kuat. Kecilnya defisit APBN maupun rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) merupakan ukuran internasional yang menunjukkan kekuatan kita. (Tulisan saya pekan lalu,“Utang Pemerintah dalam Perekonomian Global”, menjelaskan hal tersebut). Sekarang ini pemerintah memiliki uang tunai yang jumlahnya sekitar Rp200 triliun. Uang tersebut setiap kali justru semakin bertambah dan bukannya berkurang.

Untuk pengembangan N–2130, pemerintah perlu memastikan keekonomiannya dan sangat mungkin memberikan bantuan. Terlebih lagi jika PT DI mampu menunjukkan laba kembali dalam dua tahun ke depan, bukan hanya perbankan yang akan berebut untuk memberikan pembiayaan, pasar modal pun akan terbuka lebar untuk menerima penawaran saham perdana (IPO) PT DI. Ketujuh, alasan idealisme.

Begitu banyak tenaga ahli penerbangan Indonesia eks IPTN yang sekarang ini berdiaspora di luar negeri. Mereka mampu mengembangkan keahliannya dan diakui oleh raksasa industri penerbangan di Amerika, Eropa maupun negara-negara lain, sedangkan kesempatan untuk mengembangkan industri di Tanah Air sebetulnya juga terbuka lebar. Berdasarkan hal-hal tersebut, yang daftarnya juga bisa diperpanjang, merupakan suatu kesia-siaan membiarkan PT DI berjuang sendiri.

Sebagai perusahaan, dengan keuntungan yang dihasilkan saat ini,mereka jelas akan mampu berkembang. Namun kecepatan pertumbuhan mereka akan sangat rendah tanpa ada keberpihakan pemerintah. Pemerintah dapat mulai membantu PT DI dengan menghidupkan kembali pesawat N250 yang sudah menghasilkan prototipe, bahkan sudah pula hadir dalamAir Show di Eropa sebelum krisis moneter 1998.

Pesawat yang sekelas dengan ATR 42 dan salah satu varian dari Embraer tersebut memiliki potensi yang sangat besar bagi penggunaannya di Indonesia yang memiliki banyak bandara berlandasan pendek. Seiring pengembangan N250, riset dan pengembangan produk pesawat N-2130 mulai dapat diintensifkan.

Dengan kerangka waktu lebih tertata, kita bisa mengharapkan bahwa dalam tiga-empat tahun ke depan, kita sudah memiliki gambaran untuk melihat prospek yang lebih jelas bagi pesawat tersebut. Visi 2025 pemerintah jelas, yaitu menginginkan Indonesia menjadi negara maju di tahun tersebut. Let’s just do it. Marilah kita mengisi visi tersebut dengan segenap kemampuan kita. Jika Brasil bisa, kenapa kita tidak?